Please Wait!
Generated Secure link using MD5


Saham Dividend Yield Tertinggi Versi IDX High Dividend 20 (periode Agustus 2018 - Januari 2019)


Seperti yang telah i-bisnis tuliskan dalam artikel Cara Investasi Saham, dapat Anda temukan bahwa dalam investasi saham Anda dapat memperoleh keuntungan dari Capital Gain dan pembagian Dividen. Penjelasan mengenai pengertian Capital Gain dan perbedaannya dengan Dividen dapat Anda lihat pada artikel tersebut karena artikel ini akan membahas khusus mengenai seluk-beluk Dividen secara lebih detail.

Dividen merupakan pembagian sebagian laba perusahaan kepada para pemegang saham / stakeholder sesuai dengan jumlah lembar saham yang dimiliki. Bagi seorang investor jangka panjang, besar nilai dividen merupakan hal yang cukup berarti dalam menentukan kelayakan dalam membeli saham perusahaan tersebut untuk mendapatkan keuntungan dari dividen. Salah satu indikator yang paling penting sebagai pembanding adalah seberapa rutin perusahaan tersebut membagikan Dividen dan nilai Dividen Yield yang dibagikan.

Dividen Yield adalah cara untuk mengukur seberapa banyak laba yang akan Anda dapat untuk setiap lembar saham. Dividen Yield dihitung dengan cara membandingkan nilai dividen dengan harga saham per lembar.

Tahap-tahap pembagian dividen:

A. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

RUPS diadakan untuk membahas mengenai kondisi perusahaan dan rencana perusahaan kedepannya. RUPS menjadi awal penentu jumlah dividen yang akan dibagikan sesuai persetujuan seluruh stakeholder yang hadir. Pelaksanaan RUPS di masing-masing entitas memiliki jadwal yang berbeda, sebagian perusahaan melaksanakan RUPS setiap semester, ada pula yang melakukan setiap 4 bulan, atau bahkan dilaksanakan tanpa terjadwal secara rutin. Penentuan besar jumlah dividen yang dapat dibagikan dari total profit yang didapat perusahaan tidak dapat dilakukan sembarangan, karena perusahaan perlu menyimpan sebagian keuntungan untuk pengembangan perusahaan, membayar hutang, atau sebagai cadangan kas untuk keperluan diluar rencana.

B. Cumulative Date (Cum-Date)

Cumulative Date merupakan tanggal terakhir pendataan kepemilikan saham. Siapa pun pemegang saham hingga akhir perdagangan pada waktu cum-date akan terhitung sebagai investor yang berhak menerima dividen meskipun investor tersebut baru membeli di menit-menit terakhir perdagangan. Bagi para pemburu dividen, cum-date merupakan waktu yang dinanti-nanti. Setelah melewati cum-date, investor bebas memperdagangkan kembali saham tersebut dan masih memegang hak untuk menerima dividen hingga payment date. Perdagangan saham pada dasarnya dibagi atas dua cara, yaitu perdagangan reguler dan perdagangan tunai. Cum-date untuk kedua perdagangan tersebut dijadwalkan secara berbeda, dimana biasanya pasar tunai dijadwalkan beberapa hari lebih lambat dari pada pasar reguler.

C. Recording Date

Setelah melewati cum-date, maka akan ada hari khusus untuk pencatatan data pemilik saham perusahaan yang memegang saham tersebut hingga akhir waktu perdagangan dalam jadwal cum-date. Hari tersebut disebut sebagai Recording Date. Pada payment date juga akan dihitung berapa besar masing-masing investor akan memperoleh dividen berdasarkan pada jumlah tiap lembar saham yang dimiliki.

D. Payment Date

Ini merupakan hari yang paling dinantikan oleh setiap investor, payment date merupakan hari dimana dividen mulai dibagikan ke masing-masing investor yang akan masuk ke rekening dana investor (RDI). Pembayaran dividen bisa memiliki beragam bentuk, selain pembayaran dengan mata uang, dividen juga bisa dibagikan dalam bentuk lembar saham baru.

Itulah keunggulan investasi saham disbanding investasi forex, reksadana, maupun investasi dengan asset digital lainnya.


Saham Dividen Tertinggi Menurut Index IDX High Dividend 20

Pada tanggal 17 Mei 2018 lalu, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan daftar 20 saham yang rutin membagikan dividen selama 3 tahun terakhir dan memiliki dividend yield yang tinggi. Daftar 20 Saham tersebut diberi nama sebagai IDX High Dividend 20.

Berdasarkan pengumuman BEI dengan nomor Peng-00288/BEI.OPP/05-2018, pemilihan daftar 20 indeks IDX High Dividend tersebut dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut ini:
  1. Konstituen Indeks IDX High Dividend 20 adalah saham dari perusahaan tercatat yang membagikan dividen tunai selama 3 (tiga) tahun terakhir serta memiliki rata-rata harian nilai transaksi regular untuk periode 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan terakhir masing-masing lebih besar dari 1 miliar.
  2. Selanjutnya konstituen Indeks IDX High Dividend 20 dipilih berdasarkan rata-rata dividend yield, rata-rata harian nilai transaksi regular untuk periode 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan terakhir, serta kapitalisasi Pasar free float pada periode evaluasi.
  3. Metode penghitungan indeks IDX High Dividend 20 menggunakan metode Capped Dividend Yield Adjusted Free-Float sebagai bobot, dengan penyesuaian menggunakan dividend yield. Selain Itu, bobot saham disesuaikan sehingga bobot paling tinggi untuk satu saham adalah 15%.
  4. BEI akan melakukan 2 (dua) jenis evaluasi atas konstituen Indeks IDX High Dividend 20, yaitu:
  • Evaluasi Mayor, yaitu evaluasi atas konstituen dan penyesuaian bobot yang dilakukan setiap akhir bulan Januari dan selanjutnya akan efektif setiap hari bursa pertama di bulan Februari.
  • Evaluasi Minor, yaitu hanya penyesuaian bobot yang dilakukan setiap akhir bulan Juli dan selanjutnya akan efektif setiap Hari Bursa pertama di bulan Agustus.
Daftar 20 saham IDX High Dividend periode Agustus 2018 – Januari 2019 dapat Anda download di sini. Untuk mendapatkan daftar terbaru dapat langsung mengunjungi website IDX melalui link: http://www.idx.co.id/data-pasar/data-saham/indeks-saham/

    Analisa saham dengan dividen tertinggi dari daftar indeks IDX High Dividend 20 periode Agustus 2018 - Januari 2019 (Data 2015-2017).

    Secara sederhana, untuk mendapatkan dividen, Anda hanya perlu memiliki saham perusahaan tersebut hingga akhir perdagangan masa cumulative date (cum-date). Meskipun BEI telah merilis indeks IDX High Dividend 20, tetapi sebagai seorang investor tentunya menginginkan hasil yang terbaik dari saham-saham pilihan tersebut.

    Oleh sebab itu, i-bisnis mencoba merangkum nilai Dividen Yield dari daftar indeks IDX High Dividend 20 dengan rumus sederhana, yaitu Jumlah Dividen Per lembar, dibagi harga saham saat cum-date.

    Berikut ini nilai persentase dividend yield saham dari daftar IDX High Dividend 20 periode Mei-Juli 2018:

    Analisa 20 Saham High Dividend Agt 2018 - Jan 2019

    Dari data tersebut, 3 peringkat teratas dikuasai oleh sektor perbankan. BBRI menempati puncak dengan yield 13,87% disusul oleh BJTM sebesar 8,70% dan BJBR sebesar 7,11%.


    Catatan:
    • Data diambil dari Yahoo Finance

    Disclaimer!
    Data tersebut sebagai referensi dan bukan sebagai acuan untuk memilih saham dalam investasi. Seperti yang kita ketahui dari artikel Cara Investasi Saham, bahwa investasi saham memiliki beberapa keuntungan dan resiko. Salah satu resiko besar bagi investor pemburu saham dividen tertinggi adalah ketidakpastian harga saham di pasar yang kadang setelah waktu cum-date sering mengalami penurunan harga sehingga ketika dijual kembali tidak sebanding antara kerugiannya dengan jumlah dividen yang diterima. Oleh sebab itu, dalam mencari dividen dari saham pun memerlukan strategi yang tepat.


    Well done! you have successfully gained access to Decrypted Link.

    Keuntungan dan Kelebihan Antara Investasi Saham Vs Properti

    No

    SAHAM

    PROPERTI

    1

    Capital Gain


    Capital Gain Saham didapat dari peningkatan nilai / harga saham tersebut di pasar saham. Nilai Capital Gain saham cukup beragam dan sulit diprediksi.

    Ada beberapa saham yang nilainya tetap, ada pula yang mengalami pertumbuhan hingga puluhan persen dalam waktu sangat singkat, atau tahunan.

    Jika Anda cukup cermat, Anda bahkan bisa memperoleh keuntungan dari capital gain saham hingga ratusan persen dalam waktu beberapa bulan saja.

    Capital Gain


    Begitu pula dengan Rumah / Properti yang setiap tahunnya memiliki peningkatan harga jual.

    Peningkatan harga jual properti diproyeksikan rata-rata antara 5% - 10% per tahun.

    Pertumbuhan ini dirasa masih cukup minim jika dibandingkan dengan besarnya inflasi yang masih di angka 4% - 8%.

    Pertumbuhan nilai Rumah memang tidak sebesar saham, namun Capital Gain properti lebih stabil dan tanpa resiko.

    2

    Dividen


    Salah satu penghasilan pasif yang bisa diperoleh dari investasi saham adalah melalui pembagian keuntungan perusahaan sesuai dengan jumlah kepemilikan saham yang disebut sebagai Dividen.

    Pembagian keuntungan ini disebut sebagai Dividen. Dividen yang dibagikan oleh perusahaan tidak selalu sama secara nilai ataupun persentasenya (Dividend Yield).

    Dividen yang dibagikan disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan ditentukan pada hasil Rapat Umum Pemegang Saham.

    Kontrakan


    Dengan berinvestasi Rumah / Properti, Anda pun bisa memiliki penghasilan pasif dengan cara menyewakan rumah yang Anda miliki tersebut.

    Secara umum biaya sewa rumah memiliki perbandingan antara 4% - 5% dari harga rumah sebenarnya.

    Tentunya sebelum mempercayakan rumah Anda kepada penyewa, Anda harus berhati-hati dan menelusuri latar belakang penyewa agar terhindar dari hal-hal yang tidak diharapkan.

    3

    Modal Ringan


    Kelebihan ketiga dari investasi saham adalah harganya yang saat ini sudah sangat terjangkau oleh semua kalangan.

    Dengan peraturan baru dari pemerintah yang menurunkan jumlah lembar saham minimum setiap lot dari 500 lembar/lot menjadi hanya 100 lembar/lot sungguh meringankan para investor pemula.

    Sebagai contoh jika Anda ingin membeli saham PT Sri Rejeki Isman (SRIL) seharga Rp. 336,- (13/08/18) maka untuk membeli satu lot sahamnya Anda memerlukan modal hanya Rp. 33.600,-.

    Dapat Direnovasi


    Keuntungan lain dari investasi properti adalah Anda bisa meningkatkan harga jualnya secara lebih signifikan dengan cara merenovasi atau membuat tambahan bagian bangunan baru agar rumah Anda terlihat lebih baik dan lebih nyaman.

    Beberapa developer memanfaatkan cara ini untuk memperoleh keuntungan lebih cepat dibanding mencari keuntungan dari capital gain.

    Tetapi tentu saja untuk melakukan renovasi rumah diperlukan biaya tambahan yang dapat dibilang tidak murah.

    Kekurangan dan Resiko Antara Investasi Saham Vs Investasi Properti
    No

    SAHAM

    PROPERTI

    1

    Capital Loss


    Berbalik dengan Capital Gain, Capital Loss merupakan kerugian yang timbul akibat harga saham yang menurun.

    Sifat pasar saham yang fluktuatif memang dapat menjadi pedang bermata dua yang bisa menguntungkan juga dapat merugikan jika kita tidak memahami bagaimana memilih saham yang memiliki fundamental kuat.

    Memilih saham dengan fundamental kuat sebenarnya bukan hal yang sulit namun memerlukan kesabaran untuk mencari data dan menganalisa.

    Namun hal ini akan memberikan dampak jangka panjang yang sangat bermanfaat bagi Anda dikemudian hari.

    Perbaikan Rumah


    Seiring dengan berjalannya waktu, maka rumah Anda pun akan mengalami penurunan kualitas bahan bangunan meskipun hal ini akan terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama.

    Apalagi jika penyewa rumah Anda bukan orang yang peduli terhadap lingkungan dan kondisi rumah.

    Bisa jadi Anda akan mengeluarkan biaya cukup besar untuk melakukan pengecatan ulang, menambal lubang-lubang pada tembok bekas paku, atau kebocoran yang mungkin terjadi akibat kecerobohan penyewa.
    2

    Tidak Terkendali


    Meskipun sebagai pemilik saham Anda juga memiliki sebagian dari perusahaan tersebut, namun hal itu tidak serta merta menjadikan Anda sebagai direksi atau pengambil keputusan.

    Untuk dapat menjadi bagian dari direksi perusahaan atau menjadi salah satu pengambil keputusan, Anda harus memiliki jumlah saham dominan pada perusahaan tersebut.

    Selain dari keputusan direksi, ancaman pada perusahaan juga dapat berasal dari faktor eksternal seperti kondisi perekonomian nasional & global, perilaku konsumen, maupun kondisi hubungan dengan perusahaan relasi lainnya.

    Modal Besar


    Harga properti seperti rumah, ruko, atau pun apartemen masih terbilang cukup mahal bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

    Ditambah dengan biaya administrasi seperti perijinan, biaya advokat, dll.

    Hal itu berarti jika Anda ingin berinvestasi pada properti, Anda harus merogoh kocek cukup dalam dan cukup yakin dengan potensi bangunan tersebut dimasa mendatang.

    Kondisi ini sering menjadi penghambat terbesar yang ditemui pemula yang ingin memulai berinvestasi pada properti.

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel