Please Wait!
Generated Secure link using MD5


Pengelolaan Budidaya Perkebunan Kopi di Indonesia

Panduan Lengkap Bisnis Perkebunan Kopi di Indonesia
Setelah sebelumnya kita membahas jauh mengenai pengelolaan kebun kelapa sawit, mari kita coba mengenal Bisnis Perkebunan Kopi di Indonesia. Kopi adalah salah satu bahan minuman pembawa energi dan rasa menyegarkan bagi penikmatnya, sangat populer diseluruh dunia. Ada banyak sekali varian dari jenis kopi, namun jenis Kopi paling banyak dikembangkan adalah Kopi Robusta dan Kopi Arabika yang nanti akan kita bahas lebih spesifik mengenai kedua jenis kopi tersebut.

Kopi pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang gembala kambing dari Abyssinia bernama Khalid saat menemukan kambing-kambingnya tetap terjaga hingga malam setelah memakan sebuah jenis beri. Kemudian ia mencoba memasak dan memakanya hingga kebiasaan ini terus berlanjut dan tersebar hingga wilayah Afrika dengan bentuk penyajian konvensional. Perlu rekan i-Bisnis pahami juga bahwa di Indonesia sendiri bisnis perkebunan kopi diawali pada masa penjajahan Belanda dengan membawa bibit pohon kopi yang didatangkan dari Eropa. Meski telah banyak kebun kopi dari masa jajahan Belanda telah rusak, namun di beberapa wilayah Indonesia masih dapat ditemukan kebun-kebun kopi hasil kelola masyarakat sekitar. Pada dasarnya, kopi adalah tanaman wilayah di iklim tropis atau sub-tropis.

Inilah perbedaan antara jenis Kopi Arabika dan Kopi Robusta:

1. Kopi Arabika

Kopi Arabika merupakan jenis kopi terbaik saat ini sehingga sudah banyak dikembangkan di berbagai negara. Kopi Arabika tumbuh dengan baik pada ketinggian antara 1.000 s.d. 1.500 mdpl dengan suhu lingkungan antara 18 - 26 °C. Ciri-ciri biji kopi Arabika dapat dilihat dari bentuknya agak memanjang dan tidak terlalu cembung, dibagian ujung biji terlihat mengkilap namun jika dikeringkan berlebihan akan timbul retakan, pada celah tengah bijih kopi terlihat agak berlekuk dan setelah diolah biasanya akan terdapat sisa kulit ari menempel di celah tengah kopi. Nilai kafein kopi Arabika dalam satu satuan takar saji sekitar 1,10%.

2. Kopi Robusta

Kopi Robusta bisa dikatakan sebagai bijih kopi kelas kedua karena rasanya lebih pahit dan terdapat sedikit rasa asam. Kopi jenis ini umumnya ditanam pada ketinggian 400 - 1.200 mdpl dengan suhu lingkungan 20 - 28 °C. Berbeda dengan kopi Arabika, biji kopi berbentuk agak bulat, garis potongan tengah pada bijih kopi Robusta cukup rata dan tidak menyisakan kulit ari setelah pengolahan. Untuk nilai kafein kopi Robusta dalam satu satuan takar saji sekitar 1,48%.
Perbedaan Kopi Arabika vs Kopi Robusta

Setelah memahami jenis-jenisnya dan spesifikasi umumnya. Selanjutnya adalah bagaimana cara mengelola bisnis perkebunan kopi?


Beberapa tahapan yang diperlukan ketika Anda memulai bisnis perkebunan dengan menanam kopi di Indonesia:

1. Mempersiapkan Lahan Tanam Kopi

Perhatikan lokasi penanaman kopi seperti ketinggian dari permukaan laut (mdpl) maupun suhu lingkungan agar Anda dapat mengetahui jenis kopi mana yang kondusif dalam lingkungan lahan. Sekitar 2 bulan sebelum penanaman agar lahan dibersihkan dari berbagai kontaminan dan tanaman liar. Siapkan lubang tanam dengan ukuran sekitar 60 x 60 x 60cm dengan jarak antar lubang sekitar 2,5m. Sekitar 3 - 4 Minggu sebelum penanaman juga disarankan untuk memberi pupuk kompos kedalam lubang tanam untuk menambah unsur hara tanah. Dalam 1 Ha lahan akan mampu menampung hingga 1.600 pohon.

2. Mempersiapkan Bibit Kopi Siap Tanam

Seperti penjelasan sebelumnya bahwa setiap jenis kopi memiliki wilayah idealnya masing-masing, sebaiknya Anda mengikuti aturan tersebut agar hasilnya lebih maksimal. Pastikan juga bahwa asal bibit untuk ditanam dari pohon kopi yang telah berbuah selama 2 - 3 tahun dan usahakan mendapat bibit dari badan usaha bersertifikasi.

3. Cara Menanam Bibit Kopi

Bibit siap tanam berusia antara 5 - 6 bulan dan memiliki tinggi sekitar 20 - 40 cm. Perhatikan dalam menyobek polibag agar tanah didalamnya tidak terbuang. Letakan bibit tepat di tengah-tengah lubang yang telah dipersiapkan sebelumnya dan padatkan tanah agar bibit berdiri kokoh. Kurangi 2/3 daun bibit, hal ini bertujuan untuk mengurangi penguapan berlebih.

4. Perawatan Kebun Kopi

Jika Anda menemukan bibit rusak atau mati sebelum usia 2 tahun, harap segera menggantinya dengan bibit baru agar nantinya hasil yang Anda dapat lebih maksimal. Awasi pepohonan dari gulma, hama atau penyakit dan segera atasi. Gemburkan kembali tanah dalam radius 30 - 50 cm setiap 6 bulan. Disarankan untuk memangkas pucuk tanaman jika tingginya melebihi 120 - 140 cm. Hal ini berguna agar tanaman kopi tumbuh meluas dan mempermudah proses panen. Selain itu pemangkasan juga bermanfaat agar tidak muncul tunas tidak diinginkan.

Untuk proses pemupukan dilakukan setiap 6 bulan dengan komposisi sbb:
-   Pohon dibawah usia 2 Tahun
    80 gr pupuk urea + 80 gr SP-36 + 40 gr KCl + 250 gr pupuk kompos
-   Pohon diatas usia 2 Tahun
    200 gr pupuk urea + 200 gr SP-36 + 200 gr KCl + 500 gr pupuk kompos

5. Panen Biji Kopi dan Pengolahan

Biasanya kopi akan mulai berbuah pada umur 3 - 4 tahun. Petik buah secara manual dengan hanya memilih biji kopi yang telah masak. Dalam 1 Ha kebun Kopi bisa menghasilkan 800 - 1.600 Kg biji kopi per tahun. Sedangkan usia produktif pohon kopi mulai usia 4 s.d 17 tahun. Setelah usia 17 tahun disarankan untuk mengganti pohon kopi dengan bibit baru.


Perkiraan untung - rugi bisnis kebun kopi di Indonesia

Tentunya jika kita ingin memulai bisnis yang perlu diperhitungkan adalah segi untung-ruginya. Perkebunan kopi terbilang jenis usaha padat karya karena sebagian besar proses usahanya masih dilakukan secara manual. Karena itu usaha perkebunan kopi pun memerlukan modal cukup besar. Untuk investasi peralatan tanam dan perawatan menghabiskan sekitar 15 Jt dengan masa pembaruan setiap 5 tahun. Sedangkan biaya variabel seperti bibit, pupuk, pertisida dan tenaga kerja dari penanaman hingga akhir masa panen di usia 17 tahun akan menghabiskan 220 Jt, atau sekitar 55 Jt setiap 5 Tahun. Maka total biaya per 5 tahunan akan mencapai 70 Jt.

Mari kita bandingkan dengan hasil petik Kopi dengan rata-rata terendah per tahun sekitar 1.300 kg. Maka setiap masa produktif 5 tahunan di dapat 6.500 kg kopi. Harga biji kopi mentah Arabika diangka Rp 40.000 /kg dan kopi Robusta sekitar Rp. 30.000,- /kg. Maka setiap 5 tahun Akan menghasilkan pendapatan sebesar 260 Jt untuk kopi Arabika atau 195 Jt untuk kopi Robusta. Jika kurangi dengan biaya per 5 tahunan sebelumnya yaitu sebesar 70 Jt, maka bisa didapat laba bersih sebesar Rp. 190 Jt / 5 th dari kopi Arabika atau Rp. 125 Jt / 5 th jika kita menanam kopi Robusta.

Tentunya jika rekan i-bisnis mengelola biji kopi mentah tersebut hingga menjadi kopi siap seduh akan memiliki nilai tambah yang cukup signifikan dibandingkan menjual biji kopi tersebut sebagai biji mentah. Dalam mengelola Bisnis Kebun Kopi di Indonesia memang cukup spesial, setiap bentuk perlakuan akan menghasilkan kualitas dan rasa kopi yang berbeda.



NET12 - Perkebunan kopi robusta berkelas dunia di Semarang


Mempelajari sesuatu tidak pernah melelahkan pikiran.” – Leonardo Da Vinci

Well done! you have successfully gained access to Decrypted Link.

Keuntungan dan Kelebihan Antara Investasi Saham Vs Properti

No

SAHAM

PROPERTI

1

Capital Gain


Capital Gain Saham didapat dari peningkatan nilai / harga saham tersebut di pasar saham. Nilai Capital Gain saham cukup beragam dan sulit diprediksi.

Ada beberapa saham yang nilainya tetap, ada pula yang mengalami pertumbuhan hingga puluhan persen dalam waktu sangat singkat, atau tahunan.

Jika Anda cukup cermat, Anda bahkan bisa memperoleh keuntungan dari capital gain saham hingga ratusan persen dalam waktu beberapa bulan saja.

Capital Gain


Begitu pula dengan Rumah / Properti yang setiap tahunnya memiliki peningkatan harga jual.

Peningkatan harga jual properti diproyeksikan rata-rata antara 5% - 10% per tahun.

Pertumbuhan ini dirasa masih cukup minim jika dibandingkan dengan besarnya inflasi yang masih di angka 4% - 8%.

Pertumbuhan nilai Rumah memang tidak sebesar saham, namun Capital Gain properti lebih stabil dan tanpa resiko.

2

Dividen


Salah satu penghasilan pasif yang bisa diperoleh dari investasi saham adalah melalui pembagian keuntungan perusahaan sesuai dengan jumlah kepemilikan saham yang disebut sebagai Dividen.

Pembagian keuntungan ini disebut sebagai Dividen. Dividen yang dibagikan oleh perusahaan tidak selalu sama secara nilai ataupun persentasenya (Dividend Yield).

Dividen yang dibagikan disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan ditentukan pada hasil Rapat Umum Pemegang Saham.

Kontrakan


Dengan berinvestasi Rumah / Properti, Anda pun bisa memiliki penghasilan pasif dengan cara menyewakan rumah yang Anda miliki tersebut.

Secara umum biaya sewa rumah memiliki perbandingan antara 4% - 5% dari harga rumah sebenarnya.

Tentunya sebelum mempercayakan rumah Anda kepada penyewa, Anda harus berhati-hati dan menelusuri latar belakang penyewa agar terhindar dari hal-hal yang tidak diharapkan.

3

Modal Ringan


Kelebihan ketiga dari investasi saham adalah harganya yang saat ini sudah sangat terjangkau oleh semua kalangan.

Dengan peraturan baru dari pemerintah yang menurunkan jumlah lembar saham minimum setiap lot dari 500 lembar/lot menjadi hanya 100 lembar/lot sungguh meringankan para investor pemula.

Sebagai contoh jika Anda ingin membeli saham PT Sri Rejeki Isman (SRIL) seharga Rp. 336,- (13/08/18) maka untuk membeli satu lot sahamnya Anda memerlukan modal hanya Rp. 33.600,-.

Dapat Direnovasi


Keuntungan lain dari investasi properti adalah Anda bisa meningkatkan harga jualnya secara lebih signifikan dengan cara merenovasi atau membuat tambahan bagian bangunan baru agar rumah Anda terlihat lebih baik dan lebih nyaman.

Beberapa developer memanfaatkan cara ini untuk memperoleh keuntungan lebih cepat dibanding mencari keuntungan dari capital gain.

Tetapi tentu saja untuk melakukan renovasi rumah diperlukan biaya tambahan yang dapat dibilang tidak murah.

Kekurangan dan Resiko Antara Investasi Saham Vs Investasi Properti
No

SAHAM

PROPERTI

1

Capital Loss


Berbalik dengan Capital Gain, Capital Loss merupakan kerugian yang timbul akibat harga saham yang menurun.

Sifat pasar saham yang fluktuatif memang dapat menjadi pedang bermata dua yang bisa menguntungkan juga dapat merugikan jika kita tidak memahami bagaimana memilih saham yang memiliki fundamental kuat.

Memilih saham dengan fundamental kuat sebenarnya bukan hal yang sulit namun memerlukan kesabaran untuk mencari data dan menganalisa.

Namun hal ini akan memberikan dampak jangka panjang yang sangat bermanfaat bagi Anda dikemudian hari.

Perbaikan Rumah


Seiring dengan berjalannya waktu, maka rumah Anda pun akan mengalami penurunan kualitas bahan bangunan meskipun hal ini akan terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama.

Apalagi jika penyewa rumah Anda bukan orang yang peduli terhadap lingkungan dan kondisi rumah.

Bisa jadi Anda akan mengeluarkan biaya cukup besar untuk melakukan pengecatan ulang, menambal lubang-lubang pada tembok bekas paku, atau kebocoran yang mungkin terjadi akibat kecerobohan penyewa.
2

Tidak Terkendali


Meskipun sebagai pemilik saham Anda juga memiliki sebagian dari perusahaan tersebut, namun hal itu tidak serta merta menjadikan Anda sebagai direksi atau pengambil keputusan.

Untuk dapat menjadi bagian dari direksi perusahaan atau menjadi salah satu pengambil keputusan, Anda harus memiliki jumlah saham dominan pada perusahaan tersebut.

Selain dari keputusan direksi, ancaman pada perusahaan juga dapat berasal dari faktor eksternal seperti kondisi perekonomian nasional & global, perilaku konsumen, maupun kondisi hubungan dengan perusahaan relasi lainnya.

Modal Besar


Harga properti seperti rumah, ruko, atau pun apartemen masih terbilang cukup mahal bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.

Ditambah dengan biaya administrasi seperti perijinan, biaya advokat, dll.

Hal itu berarti jika Anda ingin berinvestasi pada properti, Anda harus merogoh kocek cukup dalam dan cukup yakin dengan potensi bangunan tersebut dimasa mendatang.

Kondisi ini sering menjadi penghambat terbesar yang ditemui pemula yang ingin memulai berinvestasi pada properti.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel